#ExploreMalaysia: Genting Highland

Beberapa waktu yang lalu, saya dan suami berkesempatan untuk berlibur ke Kuala Lumpur. Sebetulnya niat awalnya bukan murni untuk berlibur sih, tapi untuk mengunjungi Bapak-Ibu di Pekanbaru. Tapi tapi setelah kami mengecek harga tiket BDO-PKU, ternyata ada pilihan untuk penerbangan transit BDO-KUL-PKU yang lebih murah. Akhirnya kami memutuskan untuk singgah 2 malam di Kuala Lumpur sebelum ke Pekanbaru, hitung-hitung babymoon dan sekalian liburan akhir tahun yang tertunda πŸ˜†

Waktu kami di Malaysia terbatas hanya 2 hari 2 malam, sehingga kami tidak banyak menjelajahi kawasan wisata di sekitar Kuala Lumpur. Pada hari pertama, kami hanya berjalan-jalan di sekitar pusat kota Kuala Lumpur dan mencicipi penganan khas Malaysia di Jalan Alor. Nah, yang cukup seru adalah perjalanan hari kedua di Genting Highland.

Untuk mencapai Genting, kami menggunakan bus dari KL Sentral. Ohiya, yang unik dan berbeda dari jasa transportasi bus pariwisata di Indonesia, jumlah armada bus untuk menuju ke Genting dibatasi setiap harinya. Jadi, jika ingin berkunjung ke Genting, baiknya tiket bus dibeli sebelum hari keberangkatan untuk meminimalisir kemungkinan kehabisan tiket. Saya dan suami kebetulan baru tahu kalau jumlah armada bus ke Genting terbatas pada hari Sabtu malam, sedangkan kami berencana untuk berangkat hari Minggu pagi. Akhirnya, kami sejak jam 7 pagi sudah stand by di loket pembelian tiket bus di KL Sentral dengan harapan tidak kehabisan tiket PP KL Sentral-Genting. Alhamdulillah, masih terdapat bangku kosong untuk bis keberangkatan pukul 08.30 dari KL Sentral dan bis kepulangan Genting-KL Sentral pukul 15.30.

Perjalanan ke Genting dari Kuala Lumpur memakan waktu kurang lebih 1 jam dengan rute perjalanan yang berkelak-kelok. Wajar saja ya, karena Genting memang berada di dataran tinggi. Ya, kalau diibaratkan mungkin seperti rute Jakarta-Puncak. Untuk yang rentan pusing karena jalan berliku, baiknya tidur saja selama perjalanan supaya tidak mabok darat πŸ˜…

Setelah melalui satu jam perjalanan dari Kuala Lumpur, kami sampai di Genting pukul 09.30 dengan kondisi stasiun kereta gantung (skyway) menuju ke puncak masih sepi. Alhamdulillah. Kami jadi tidak perlu mengantri untuk naik skyway dan bisa menggunakan satu skyway hanya untuk kami berdua πŸ˜„

Pemandangan dari atas skyway di pagi hari itu, Masya Allah, indahnya… Rasanya seperti berada di atas awan. Pemandangan perbukitan yang masih hijau sangat memanjakan mata. Dari jauh juga terlihat siluet kota Kuala Lumpur dengan gedung-gedung pencakar langitnya.

Pemandangan dari skyway menuju puncak Genting

Seperti berada di atas awan
Chin Swee Caves Temple, dilihat dari jalur skyway

Sebelum sampai di puncak Genting, kami memutuskan untuk turun dari skyway dan mampir ke Chin Swee Caves Temple. Untuk menuju kuil tersebut, kami turun di Chin Swee Station lalu menuruni eskalator yang tersedia menuju kuil. Pemandangan dari kuil ini indah banget, apalagi waktu kami datang masih pagi sehingga sinar matahari belum terlalu terik. Kami menghabiskan waktu disini dengan menyusuri pelataran, melihat sekilas bangunan kuil dan patung-patung, dan (tentu saja!) berfoto di pelatatan kuil πŸ˜†
Sebetulnya masih banyak sudut kuil ini yang bisa dijelajahi, tapi kami tidak sampai menjelajahi ke bagian lain kuil selain pelatarannya karena hari sudah mulai siang dan kami lapar. Wkwk. Akhirnya setelah puas berfoto dan melihat-lihat, kami melanjutkan perjalanan ke puncak menggunakan skyway lagi.
Oh iya, tiket Awana skyway yang kami gunakan untuk mampir di kuil ini adalah tiket terusan. Jadi, kami tidak perlu membayar atau membeli tiket lagi untuk mampir di Chin Swee Station alias gratis!

Pelataran Chin Swee Caves Temple

Sesampainya di puncak, kami langsung mencari restoran untuk makan. Satu hal yang agak saya sayangkan adalah pilihan menu makanan yang halal untuk muslim di Genting ternyata tidak terlalu banyak (eh, atau saya yang kurang explore? πŸ€”)
Sebagai muslim juga harus berhati-hati ketika jajan disini, karena tidak semua menu halal untuk muslim. Kami sempat mampir ke foodcourtnya, terdapat pemisah untuk tenant yang menjual halal food dan non-halal food.
Siang itu, kami mencoba santapan khas India: roti paratha, naan, dan ayam tandoori lengkap dengan kuah kari dan teh tarik. Cukup mengenyangkan untuk makan siang porsi dua orang.

Makan siang roti paratha, naan, dan ayam tandoori

Setelah makan siang, kami berjalan-jalan mengitari mall. Window shopping aja sih, wkwk. Ohiya, sebetulnya di Genting ini ada arena bermain anak indoor, semacam di TSM Bandung gitu. Tapi berhubung kami tidak bawa anak, dan saya pun lagi hamil 7 bulan, jadi kami tidak bermain di arena tersebut. Semoga nanti kalau sudah ada anak-anak bisa ada kesempatan dan rizki lagi ya, untuk mengajak mereka bermain disini 😊

Puas berkeliling mall, akhirnya kami memutuskan untuk turun ke stasiun bus menggunakan skyway. Oh iya, sebetulnya stasiun bus Genting juga terhubung dengan pusat perbelanjaan. Dan istimewanya pusat perbelanjaan yang di bawah ini menawarkan banyak sekali barang diskon! Kami memutuskan membeli oleh-oleh disini untuk keluarga di Pekanbaru. Lumayan, dapat coklat dengan potongan setengah harga 😁✌️

Alhamdulillah, perjalanan berlibur satu hari penuh di Genting meninggalkan kesan yang baik dan menyenangkan. Semoga di lain waktu bisa kembali untuk explore lebih banyak lagi di Genting!

Advertisements

Wisuda Akbar Institut Ibu Profesional Bandung 2019

Wisuda Kelas Matrikulasi Bandung 3 bersama Fasilitator

Tahun 2018 lalu saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program Matrikulasi IIP Batch 6 bersama dengan teman-teman di kelas Matrikulasi Bandung 3. Setelah kurang lebih 6 bulan menjalani program matrikulasi, Alhamdulillah awal tahun ini kami sekelas yang dinyatakan lulus diberi kesempatan untuk menghadiri wisuda akbar bersama dengan teman-teman lulusan dari kelas Matrikulasi Bandung 1-4, lulusan kelas Bunda Sayang Batch 2, dan lulusan kelas Bunda Sayang Batch 3. Salah satu mata acara dari Wisuda Akbar IIP kali ini adalah Seminar Personal Excellence dengan pemateri spesial: Cikgu Okina Fitriani, S.Psi, MA.

Poster pendaftaran Wisuda Akbar IIP Bandung 2019

Materi yang diberikan oleh Cikgu Okina pada seminar kali ini berfokus pada pengembangan personal excellence diri sebagai ibu profesional. Ada 3 poin utama yang perlu dikuasai untuk menumbuhkan personal excellence sebagai ibu profesional, yaitu: mengelola emosi, fokus pada visi dan misi, dan efektif berkomunikasi.

Mengelola Emosi

Sebagai orang tua, tentu kita punya berbagai harapan ke anak; agar anak menjadi anak sholeh/ah, cerdas berprestasi, sopan dan berkelakuan baik, sehat, dsb. Dengan adanya berbagai ekspektasi tersebut, orang tua seringkali memaksakan sesuatu pada anak dengan dalih “yang terbaik untuk anak”. Padahal, apakah orang tua pernah bertanya pada anak tentang harapan mereka pada orangtuanya? Harapan anak-anak pada orang tuanya itu sederhana; main sama aku, sayangi aku, jangan marah padaku, ayah dan mama jangan bertengkar.

“Jangan marah padaku,”

Maka, mengelola emosi menjadi hal yang penting bagi orang tua. Nah, pertanyaannya, bagaimana caranya?

Emosi dapat dikelola dengan LATIHAN sehingga menjadi kebiasaan yang berulang. Emosi adalah hal yang natural dan bermanfaat bagi manusia. Yang membuatnya menjadi buruk adalah reaksi kita yang negatif terhadap kejadian atau tindakan tertentu dari orang lain. Maka, kita harus berlatih supaya emosi yang muncul dapat menjadi bahan bakar untuk melakukan sesuatu (action)!

EmosiUsefulUnuseful
MarahLakukan perubahan– Marah
– Ngomel
– Mengamuk
SedihBerempati dan menolong– Depresi
– Putus Asa
BersalahTaubat– Takut
– Mencari kambing hitam
Gembira– Bersyukur
– Membangun suasana
Membuat keributan

Otak manusia sudah didesain sedemikian rupa. Cikgu Okina menjelaskan bahwa otak manusia secara umum terdiri dari 4 bagian, yaitu:

a. Brain Stem (batang otak), berfungsi untuk mendukung basic survival makhluk hidup. Insting untuk makan-minum, istirahat, dan berkembang biak misalnya, diatur pada bagian otak ini. Contoh makhluk hidup yang memiliki struktur otak brain stem adalah reptil seperti kadal, buaya, dsb.

b. Lymbic Sistem, berfungsi sebagai emotional center dan short term memory. Contoh makhluk hidup yang memiliki struktur otak ini adalah mamalia seperti anjing, kucing, kelinci, dsb.

c. Cortex, berfungsi sebagai reasoning/judging center yang membentuk kecerdasan, kemampuan berpikir dan menganalisa, serta long-term memory. Contoh makhluk hidup yang memiliki struktur otak ini adalah kelompok kera-keraan seperti monyet, orangutan, gorilla, dsb.

d. Pre-frontal Cortex, berfungsi sebagai bagian otak untuk menunda keinginan, mengontrol emosi, berempati, dan berbahasa. Uniknya, hanya manusia yang dianugerasi bagian otak ini oleh Allah.

Agar pandai mengelola emosi, pre-frontal cortex harus dilatih sehingga kuat. Salah satu metode terbaik untuk melatih kemampuan pre-frontal cortex dalam menunda keinginan adalah dengan PUASA! MasyaAllah… Allah Sang Pencipta paling mengetahui kebutuhan makhluknya yah. Inilah hikmah dari disyariatkannya puasa Ramadhan satu bulan penuh, yaitu untuk membantu kita mengelola emosi dan keinginan kita.

Lalu, dampaknya apa ketika kita gagal mengelola emosi kepada anak?

Anak-anak lahir dengan potensi baik (fitrah) yang terdiri dari 5 fitrah: 

  1. Fitrah Iman
  2. Fitrah Belajar hingga Piawai
  3. Fitrah Kasih Sayang
  4. Fitrah Bertahan Hidup
  5. Fitrah Tanggung Jawab (terutama pada anak laki-laki!)

Pendidikan dan pengasuhan kepada anak yang dilakukan oleh orang tua bertujuan untuk membentuk dan mengarahkan fitrah/potensi anak menjadi KOMPETENSI. Dengan menjaga fitrah anak, diharapkan anak dapat tumbuh dengan optimal jiwa dan raganya.

Sebaliknya, jika orang tua tidak mampu mengendalikan emosinya maka fitrah anak bisa tercederai sehingga anak tidak mau/mampu mengambil tanggung jawab, terbiasa berbohong, fokus pada kekurangan diri, malas, fokus pada dunia, tidak mampu mencari solusi sendiri, dll.

Fokus pada Visi dan Misi

Selanjutnya, Cikgu Okina menjelaskan tentang pentingnya berfokus pada visi dan misi keluarga dalam proses mendidik anak. Visi dan misi keluarga harus dilakukan bersama; orang tua wajib membersamai anak-anak dalam belajar dan berbuat sesuai dengan misi keluarga yang telah disusun. Pada poin ini, konsistensi orang tua dalam menerapkan visi, misi, dan kegiatan sesuai kesepakatan dengan anak menjadi kunci.

Komunikasi Efektif

Pada sesi materi terakhir ini, Mbak Iwet (Juliana Dewi Kartikasari) dan Mas Akang (Sutedja Eddy Saputra) memaparkan pengalaman keduanya dalam membangun komunikasi efektif sebagai pasangan. Perjuangan Mbak Iwet dan Mas Akang dalam mentransformasi diri masing-masing menjadi sosok orang tua yang piawai dalam mendidik anak sungguh luar biasa. Butuh 19 tahun usia pernikahan bagi keduanya untuk akhirnya menemukan kunci pendidikan anak dalam keluarganya. Dan, keduanya membuktikan betapa pentingnya kerjasama suami dan istri dalam pendidikan dan pengasuhan anak karena kasih sayang ayah dan mama sama pentingnya bagi tumbuh kembang anak secara emosional, kognitif, maupun sosial.

Komunikasi efektif dapat dibangun dengan 5 pilar komunikasi berikut:

  1. Selesaikan emosinya; buka ruang diskusi dan berbicara dengan pasangan/anak ketika emosinya sedang netral. Orang yang sedang dalam kondisi marah/kesal kehilangan kemampuannya untuk berpikir secara rasional sehingga akan sulit menerima masukan.
  2. Fokus pada tujuan
  3. Bangun kedekatan; buka komunikasi dengan pasangan/anak melalui hal-hal yang mereka suka. Misalnya dengan mengikuti kegiatan-kegiatannya, hobinya, film favoritnya, dsb. Dengan begitu akan terbangun kedekatan secara emosional dan kita juga bisa lebih memahami sudut pandang pasangan/anak.
  4. Ketajaman indera; perhatikan mimik muka dan bahasa tubuh pasangan/anak ketika kita berkomunikasi dengan mereka. Jika terlihat tidak nyaman, ubah intonasi/gaya bahasa/gaya bicara kita sehingga membuat mereka nyaman kembali. Atau, hentikan proses dan lakukan lagi di waktu yang berbeda.
  5. Fleksibel dalam tindakan; gunakan berbagai metode dan lakukan berulang-ulang sampai tujuan tercapai πŸ™‚

Mbak Iwet bercerita tentang pengalamannya membangun komunikasi produktif dengan suaminya agar beliau mengubah kebiasaan dan pola interaksinya di depan anak-anak. Sebelum “bertransformasi” menjadi sosok Mas Akang yang sekarang penyabar dan pendengar bagi anak-anaknya, ia adalah sosok yang keras, jarang menunjukkan kasih sayang di depan anak-anaknya, dan enggan bermain dengan anak-anaknya. Urusan anak-anak adalah urusan istri, begitu mindsetnya.

Namun mindset dan pola pengasuhan tersebut ternyata berdampak pada perilaku anak-anaknya yang kasar pada temannya, prestasi akademik yang kurang baik, dan kemampuan empati yang kurang. Sehingga Mbak Iwet sekuat tenaga dengan berbagai cara mencoba ‘merayu’ Mas Akang untuk mengubah perilakunya, dan itu tidak mudah. Tapi tanpa putus asa, Mbak Iwet mempraktikkan 5 pilar komunikasi di atas sehingga suaminya pun luluh dan bersedia berubah. Perubahan sikap Mas Akang ternyata berdampak signifikan pada perilaku dan peningkatan prestasi akademik anak-anaknya πŸ™‚

Penutup

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dapat menjadi bagian dari keluarga IIP Bandung dan menghadiri Wisuda Akbar + Seminarnya yang sungguh berbobot. Semoga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dengan baik, walaupun masih banyak juga PRnya dan materinya masih perlu diselami lebih dalam lagi sehingga bisa terwujud peradaban islami dari dalam rumah kita sendiri.

Yuk, tetap semangat, Ibu-Ibu Pembelajar! πŸ™‚

Wedding Series; Review Hani Catering Service

Pada tulisan kali ini, saya mau sharing tentang catering service yang saya gunakan saat mengadakan walimatul ‘urs di awal tahun 2018 lalu. Saya menggunakan jasa katering dari Hani Catering. Untuk profil Hani Catering dan paket-paket yang tersedia, bisa teman-teman lihat di website Hani Catering melalui link ini ya.

Brosur Hani Catering

Saya menggunakan jasa Hani Catering untuk acara pengajian sebelum hari-H dan saat hari H. Alhamdulillah, saya dan keluarga cukup puas dengan layanan dari Hani Catering karena pemilik dan pekerjanya amanah dan komunikatif, menunya beragam, dan rasanya enak. Hani Catering, juga menawarkan paket dokumentasi, rias, dan dekorasi pelaminan yang termasuk ke dalam harga paket cateringnya (kecuali jika mempelai dan keluarga memilih untuk mengambil jasa dokumentasi/rias/dekorasi diluar rekanan Hani Catering).

(1) Catering

Menu yang ditawarkan oleh Hani Catering cukup beragam, mulai dari menu buffet, menu gubukan, dan dessert yang ditawarkan. Berdasarkan pengalaman, saya merekomendasikan menu bakso dan dimsum untuk gubukan, nasi hainan + bebek untuk buffet dan poffertjes. Terutama baksonya, menurut saya betul-betul juara!

(2) Rias Pengantin

Jasa rias pengantin dari Hani Catering ditawarkan satu paket lengkap yang terdiri dari rias pengantin, sewa baju pengantin (akad dan resepsi), rias orang tua, sewa baju orang tua, dan sewa baju untuk pager ayu. Sebetulnya Hani Catering punya beberapa rekanan untuk rias pengantin, kebetulan saya direkomendasikan oleh Bu Hani untuk menggunakan jasa Mba Latifah (@latifahpayet). Pilihan busana rias di salon Mba Latifah cukup beragam, jadi kita bisa memilih baju pengantin yang hendak digunakan di hari H. Selain itu, kita juga bisa memilih pasangan baju untuk pengantin pria, baju untuk orang tua, dan baju untuk pager ayu.

Namun saat acara kemarin, saya dan keluarga memutuskan untuk tidak menggunakan jasa sewa baju akad pengantin, sewa baju pengantin pria, sewa baju orang tua, dan sewa baju pager ayu karena kami ingin membeli sendiri kain yang sesuai dengan warna seragam keluarga besar. Akhirnya, jasa yang kami gunakan dari Mba Latifah hanya rias pengantin, rias anggota keluarga, dan sewa baju resepsi pengantin wanita.

Baju resepsi pengantin wanita yang saya gunakan didesain sendiri oleh Mba Latifah. Gaunnya berwarna putih dengan aksen silver dan payet bunga-bunga dan modelnya mengembang seperti gaun princess. Nah, sayangnya untuk gaun ini kami harus membayar biaya sewa tambahan yang tidak termasuk ke dalam paket Hani Catering.

Untuk riasnya, saya cukup puas dengan riasan Mba Latifah yang bertahan dari akad hingga resepsi selesai. Hasil akhirnya pun rapi dan flawless. Oh iya, sebelum hari H, kita dapat request untuk fitting baju sekaligus test make-up sehingga Mba Latifah sebagai perias dapat menyesuaikan gaya riasannya dengan baju yang kita gunakan, fitur muka, dan preferensi kita.

(3) Dekorasi

Jasa dekorasi yang saya gunakan paket Hani Catering meliputi dekorasi pelaminan, dekorasi bunga dalam ruangan, photobooth (opsional), dan dekorasi pohon dan kursi taman di dalam ruangan. Karena konsep yang mau dibawa adalah modern, maka jenis dekorasi pelaminan yang dipilih pun disesuaikan dengan gaun pengantin dan warnanya disesuaikan dengan tema warna baju yang digunakan oleh keluarga. Untuk biayanya, sebetulnya sudah termasuk ke dalam biaya paket katering tapi ada beberapa tambahan seperti tambahan biaya photobooth, dekorasi pohon, dan pelaminan karena menyesuaikan dengan ukuran ruangan yang besar sehingga skala dekornya pun harus diperbesar. Hasil dekorasinya menurut saya cukup pantas. Walaupun dalam pandangan saya, arrangement bunganya kurang ramai dan kurang rapi.

(4) Dokumentasi

Tim dokumentasi dari paket Hani Catering kalau tidak salah berisi 2-3 orang. Dari hasil foto-foto di hari H, saya mendapatkan 2 album yaitu album saat akad dan album saat resepsi. Hasil dokumentasinya cukup baik, walaupun menurut saya perlu ditingkatkan lagi teknik pengambilan gambar dan teknik editing untuk albumnya. Dari berbagai foto hasil jepretan tim dokumentasi, ada perbedaan kualitas foto mungkin karena keahliannya tidak sama antara team leader dan staff di tim dokumentasinya ini. Ada beberapa foto yang miring atau terpotong. Bahkan sesi foto pengantin di pelaminan, beberapa foto tidak simetris dan kurang bisa menangkap momen spesialnya. Menurut saya, sih.

Mungkin sekian review dari saya tentang jasa katering Hani Catering. Untuk teman-teman yang tinggal di sekitar Tangerang Selatan/Jakarta Selatan, bisa banget menggunakan jasa dari Hani Catering ini. Walau ada beberapa kekurangan, tapi saya cukup puas dengan pelayanannya yang jujur, terbuka, dan mau menerima masukan dari klien-banyak-mau kayak saya hehe. Overall, I’d give 8/10 for Hani Catering Service Wedding Package πŸ˜‰

What Does Women Get in Jannah?

This video is really to watch!

Semalam saya menyempatkan menonton video ceramah Ust. Nouman Ali Khan di Youtube setelah membaca tulisan Kak Urfa di laman instagramnya yang bisa dicek disini. Dalam video ini, beliau menjawab pertanyaan seorang muslimah yang bertanya kepada beliau: “What do Women Get in Jannah”?

Pertanyaan tersebut jadi menarik, karena di dalam Al-Qur’an memang tidak disebutkan secara eksplisit tentang reward yang dijanjikan untuk wanita beriman yang masuk ke dalam surga-Nya. Ust. NAK also said: If we read the Qur’an, there is no ayat in the entire Qur’an that talks about what women want, while in the other hand He mention things that men wants in QS Ali Imran:14

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”

Menarik, ya?

Eh, tapi jangan berburuk sangka dulu. Tentu saja Allah SWT sebagai pencipta kita, mengetahui tentang masing-masing diri kita lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Ia tidak menyebutkan hal-hal yang akan diperoleh oleh wanita di surga-Nya, adalah sebuah keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT untuk wanita itu sendiri. Ingat janji-Nya, bahwa Ia tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang beriman dan berbuat kebajikan. Begitu pun dengan reward untuk wanita di surga nanti, tidak disebutkan secara eksplisit oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an karena Ia mengetahui bahwa wanita tidak diprogram dengan keinginan yang saklek seperti layaknya pria.

Sebuah contoh kasus yang diceritakan dengan jenaka oleh Ust. NAK dalam video diatas, yaitu ketika beliau meminta anak-anak didiknya yang laki-laki dan perempuan untuk menuliskan keinginannya di sebuah kertas dalam waktu 20 detik. Anak laki-laki dapat menyelesaikan permintaan itu dengan mudah, bahkan kurang dari 20 detik mereka sudah bisa memutuskan hal yang paling diinginkannya saat itu dan ditulis diatas kertas. Anak-anak perempuan? Mereka hingga meminta tambahan waktu dan tidak henti bertanya pada teman di kanan-kirinya untuk meminta saran. Bahkan ada anak perempuan yang menuliskan “It depends” pada kertas jawabannya saking galaunya dia tentang keinginannya sendiri wkwk. And, I personally can relate to that as a woman :p 

Ceramah Ust. NAK ini sangat relatable lah, beliau banyak bercerita dan menyampaikan anekdot yang menyadarkan saya betapa labilnya perempuan tentang keinginannya :))

Kalau diingat-ingat lagi ke perilaku saya sendiri, hampir setiap hari saya galau kayak:

Makan siang apa ya hari ini, aku pengen mie ayam tapi semalam udah makan mie aceh jadi nggak boleh makan mie lagi. Tapi kalau mau makan sayur berarti harus beli capcay tapi aku nggak suka beli capcay di warung karena x, y,z “; hingga akhirnya nggak makan siang karena terlalu banyak pertimbangan wkwk. 

Atau contoh kasus lainnya, “Aku bosen deh sama koleksi bajuku di lemari, pengen beli baru tapi beli atasan, rok, jilbab, atau gamis ya? Belinya di online shop yang mana ya? Warna apa ya? Modelnya yang gimana ya? Eh tapi kalau beli baju sekarang sayang nih, uangnya bisa dipakai buat beli <prioritas lain>. Gapapa deh, baju yang ini dan itu masih oke kok. Jilbab yang ini dan itu juga masih bagus. Tapi bosen dan pengen beli, tapi….“; wkwkwk hingga akhirnya nggak beli apapun.  

Seperti kasus anak perempuan diatas, seringkali keinginan wanita memang bergantung pada banyak faktor. Keinginan wanita saat muda dan single, saat sudah menikah, saat sudah jadi orangtua, saat mulai menua, semuanya berbeda. It depends. Depends on what? Well, it depends on the person too! :p

Tidak bisa disamakan, karena masing-masing wanita diciptakan unik ❀

Maka di surga pun, Allah SWT yang akan memberikan langsung reward kepada masing-masing wanita sesuai dengan keinginan hatinya yang terdalam, yang hanya Ia yang tahu. Yang bahkan seringkali, si wanita pun tidak tahu (atau tidak mau tahu? atau menolak mengaku? wkwk) tentang apa yang benar-benar dia inginkan.

Masya Allah, Maha Besar Allah SWT Sang Maha Pencipta, Yang Maha Mengetahui apa-apa yang ada dalam hati hamba-Nya. 


Movie Review: Ralph Breaks The Internet

Trailer Ralph Breaks The Internet

Baru-baru ini saya dan suami menyempatkan untuk menonton film Ralph Breaks The Internet yang merupakan cerita lanjutan dari film Wreck-It Ralph (2012). Sejujurnya saya tertarik untuk menonton film ini karena teaser trailer-nya yang lucu banget! Apalagi di adegan Ralph masuk ke game Bunny vs Kitty wkwk.

Tokoh utama Ralph Breaks the Internet masih sama dengan film pertamanya, yaitu si raksasa Ralph dan teman pembalap kecilnya Vanellope yang tinggal di arcade-nya Mr. Litwak. Konfliknya dimulai ketika Vanellope merasa bosan dan jenuh dengan kehidupan dan tantangan di game balapannya, Sugar Rush, yang menurut dia tidak menarik lagi. Mendengar curhat sahabatnya itu, Ralph pun berinisiatif untuk ‘membuat lintasan baru’ di game Vanellope, yang tentu saja, berakhir dengan tragedi rusaknya game tersebut. Ralph dan Vanellope kemudian mencari cara untuk memperbaiki game Sugar Rush dengan cara apa? Tentu saja sesuai judul filmnya: they breaks to the internet! Kebetulan hari itu, Mr. Litwak baru saja menyambungkan komputer di Litwak’s Arcade Center ke internet. Dan dimulailah petualangan Ralph dan Vanellope di jagat internet~

Nah, mungkin sampai situ dulu ya sinopsisnya. Kalau kebanyakan nanti spoiler πŸ˜›

Sebetulnya untuk alur cerita dari film ini menurut saya yang sudah berumur ini agak cheesy dan klise, sih. Tapi karena target penontonnya anak-anak jadi bisa dimaklumi. Film ini juga bukan tipe film yang bagus-banget-gue-pengen-nonton-lagi gitu, tapi cukup menghibur. Jokes dan puns-nya cukup kena dan relevan sama kondisi netizen saat ini dan berhasil bikin penonton ketawa di beberapa scene. Lewat animasi di film ini, saya juga berhasil menangkap beberapa konsep yang selama ini abstrak buat saya, kayak “internet tuh dalemnya gimana sih”, “dark web itu apa sih”, “gimana konsep advertisement dan pop-up ads di website”, hingga “gimana sih cara kerja virus/malware?” karena hal-hal tersebut digambarkan dan diceritakan dengan cukup baik melalui film ini. Mungkin bagi para orang tua, film ini bisa jadi media untuk mengedukasi anak-anak tentang konsep dasar internet juga. Bahwa tidak semua hal di internet itu benar dan baik, dan ada resiko tertentu yang harus diwaspadai.

Overall, I give 7/10 for this movie: for its humor and relevance to today’s world. Yay.

Bonus; here’s one memorable scene from the movie, when Vanellope breaks Disney Princesses Chamber, and they asked her identity if she’s one of the princess:

Oh yeah, Vanellope, you’re a typical Disney princess :)) 
source: pinterest

Melek Finansial

Bulan September 2017 lalu, ada sesi sharing di grup IAIC (Ikatan Alumni Insan Cendekia) tentang Financial Planning. Waktu sesi sharing itu, saya hanya menjadi peserta pasif yang ikut membaca dan menyimak penjelasan dan pertanyaan-jawaban di sesi tanya jawab karena saat itu saya rasa saya belum butuh-butuh banget buat bikin financial planning yang seserius itu karena saya merasa pola pengelolaan uang bulanan saya sudah cukup baik. Sejak kuliah, saya mengelola uang bulanan dari orang tua dengan menyisihkan sejumlah uang untuk ditabung di rekening khusus tabungan, sedekah, dan infaq sewaktu-waktu. Sisanya ya saya pakai buat hidup sehari-hari. Alhamdulillah, saya bukan orang yang suka menggunakan uang untuk belanja baju, sepatu, tas, kosmetik, yang berlebihan. Saya beli kalau saya memang butuh dan barang yang ada sudah tidak layak digunakan. Tapi seringkali dompet saya β€˜bocor’ kalau urusannya tentang beli buku dan beli makanan. Wkwk.

Setelah mengikuti sesi sharing financial planning IAIC, saya yang saat itu udah punya penghasilan sendiri, mulai berpikir kalau uang tabungan saya saat itu memang agak sayang kalau cuma disimpan di rekening tabungan. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli emas, aset yang nilai intrinsiknya insyaAllah paling stabil. Sekaligus persiapan kalau di masa mendatang, ketika saya sudah berkeluarga, ada kebutuhan mendesak yang perlu dana besar. Saya kira itu cukup, untuk saat ini.

Sampai baru-baru ini saya follow akun @jouska_id di Instagram, yang merupaka akun Independent Financial Adviser. Akun ini sering share cerita kasus klien-kliennya yang kena masalah finansial. Seringkali kasus kliennya ini adalah orang-orang yang gajinya besar, tapi di tengah perjalanan karirnya tergoda membeli ini-itu untuk memenuhi tuntutan gaya hidup. Ada juga kasus tentang istri yang suaminya meninggal dan meninggalkan beberapa aset warisan, tapi istrinya bingung mengelola harta warisan tersebut karena nggak melek finansial and legal issues-nya. Akhirnya si istri tersebut kena tipu beberapa pihak tidak bertanggung jawab dan kehilangan beberapa asetnya. Yah, dan banyak kasus-kasus menarik lainnya yang bisa teman-teman baca di akun instagram Jouska, ya.

Yang mau saya highlight adalah: sebagai perempuan, kita tetap harus punya pengetahuan yang cukup tentang pengelolaan finansial dan dokumen legal yang menyertainya. Apalagi kalau aset yang dimiliki bernilai besar dan jumlahnya banyak. Karena kita nggak tahu kapan dan dalam bentuk apa ujian terkait harta benda ini menimpa kita dan/atau suami kita. Sebagai muslim, tentunya dana untuk zakat, infaq, dan sedekah juga harus rutin dikeluarkan untuk mensucikan harta kita.

Apalagi setelah menjalani sendiri dunia rumah tangga dengan kondisi akan hadirnya anak-anak di tengah keluarga kecil kami, saya semakin tertantang untuk membuat perencanaan finansial yang mumpuni sehingga kebutuhan keluarga bisa tercukupi. Untuk keluarga muda yang baru merintis seperti keluarga saya, mungkin list-nya akan berisi:

  1. Dana persalinan dan belanja kebutuhan bayi
  2. Dana Tempat Tinggal (kontrakan/kosan/cicilan rumah)
  3. Dana Darurat
  4. Dana Pendidikan
  5. Dana Tabungan Haji
  6. dll

Semua list diatas membutuhkan dana yang tidak sedikit, belum lagi adanya inflasi setiap tahunnya sehingga menabung saja tidak akan cukup. Akhir-akhir ini, saya mulai melirik produk investasi saham, reksadana, dan deposito sebagai sarana penyimpanan uang untuk memenuhi kebutuhan finansial diatas.

Tapi pada akhirnya, kita sebagai manusia hanya bisa berikhtiar dengan disertai keyakinan bahwa rizki masing-masing hamba sudah dijamin olehNya. Jadi kekhawatiran tentang pemenuhan kebutuhan keluarga ini semoga tidak membuat kita (saya dan keluarga khususnya), jadi menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Naudzubillah min dzaalik.

Jejak

Ada orang-orang yang kehadirannya di hidup orang lain meninggalkan jejak yang membekas lama. Ada pula orang-orang yang kehadirannya hanya singgah sebentar, yang beberapa saat kemudian tidak lagi terlihat lalu terlupakan. Ada pula orang-orang yang kehadirannya seperti angin lalu, hanya lewat dan tidak memberikan dampak apa-apa. 

Di setiap jenjang kehidupan yang saya lalui, selalu ada pertemuan dengan beberapa orang yang jejaknya sulit hilang dari hidup saya. Bahkan ketika kami tidak lagi bertemu tatap muka sesering dulu. Yang membekas bisa jadi nasihat, contoh perbuatan, kebiasaan baik, maupun pengalaman pahit.

Beberapa jejak yang berhasil ditinggalkan beberapa orang dalam hidup saya: 
(1) Selalu berbuat baik dan memudahkan urusan orang lain

(2) Bahwa setiap titik kebaikan kecil yang pernah kita lakukan akan berkumpul dan menjadi besar pada waktunya. Maka, jangan berhenti berbuat baik, jangan berhenti menjadi orang baik, dan jangan lelah berkumpul dengan orang-orang baik.

(3) Bahwa mimpi besar kita tidak boleh dikerdilkan karena pendapat orang lain.

(4) Jangan lelah dan jangan memalingkan wajah dari dakwah. Bahwa sesungguhnya dakwah tidak butuh kita, tetapi kita yang butuh untuk selalu berada di jalan dakwah. 

Meninggalkan jejak baik dalam hidup orang lain, bisa jadi merupakan amal jariyah, ketika kalimat/perbuatan kita menjadi alasan dan penyemangat bagi orang tersebut untuk terus berbuat baik dalam hidupnya. 

Mari, berlomba-lomba meninggalkan jejak terbaik sehingga ketika saatnya tiba bagi kita untuk meninggalkan dunia, yang akan dikenang adalah kebaikan dan manfaat yang kita berikan kepada sekitar. 

Pengaturan Waktu sebagai Manajer Keluarga

“It’s not enough to be busy. The Question is: What are we busy about?”

Henry David Thoreau

Seperti kata kutipan diatas, menjadi sibuk saja tidak cukup. Tapi pertanyaan pentingnya adalah: kita sibuk untuk apa? Apakah waktu yang kita habiskan untuk berkegiatan adalah waktu yang penuh berkah karena diisi dengan kegiatan positif, atau sebaliknya, waktunya tidak berkah karena diisi dengan kegiatan yang tidak bermanfaat. Padahal setiap orang punya alokasi waktu yang sama setiap harinya selama 24 jam. Maka, kita perlu membuat prioritas dan jadwal kegiatan sehingga memastikan kegiatan keseharian kita diisi dengan kegiatan positif.

Dalam konteks berumah tangga, khususnya sebagai istri dan ibu yang merupakan manajer di rumah, pengaturan prioritas dan jadwal kegiatan bagi ibu menjadi suatu hal yang penting agar ibu dapat menjalankan semua kewajibannya dan tetap dapat memenuhi hak pribadinya.

Berikut ini merupakan prioritas kegiatan yang saya susun berdasarkan kegiatan saya di ranah domestik dan ranah publik:

Prioritas Kegiatan Alokasi Waktu Durasi
Domestik
Melayani Suami 17.00 – 09.00 16 jam
Mendidik Diri menjadi Ibu 17.00 – 09.00 16 jam
Publik Menyelesaikan Pekerjaan di Kantor 09.00 – 16.00 7 jam

Prioritas saya di rumah adalah melayani suami dan mendidik anak. Tapi karena anak kami masih dalam kandungan, maka fokus saya adalah mendidik diri sendiri agar dapat menjadi Ibu yang baik bagi anak-anak kelak. Sedangkan di ranah publik, prioritas saya adalah menyelesaikan semua pekerjaan di kantor yang waktunya dibatasi pada jam kerja yaitu pukul 09.00 – 17.00.

Sedangkan untuk kegiatan non-prioritas yang harus saya kurangi waktunya, yaitu scrolling media sosial, menonton drama, dan blogwalking tanpa arah 😦

 

 

Learning How to Learn

Bismillahirrahmanirrahim…

Menjadi istri dan (calon) ibu merupakan sebuah tantangan, karena ada pergeseran hak dan kewajiban dari status sebelumnya sebagai seorang gadis. Setelah menjadi istri, ada sosok suami yang harus dipatuhi dan dipenuhi haknya. Juga ketika sudah ada anak dalam rumah tangga kami, maka pendidikan anak menjadi satu hal yang harus diprioritaskan dalam keseharian saya. Maka dari itu, ada banyak hal yang perlu saya pelajari untuk dapat menjalankan peran sebagai istri dan sebagai ibu nantinya sehingga saya dapat menjalankan kewajiban saya di rumah untuk memenuhi hak suami dan anak-anak serta memenuhi kewajiban saya di luar rumah sebagai bagian dari Cityplan.id.

Untuk memfasilitasi diri saya dalam mempelajari dan mengasah skillset yang dibutuhkan untuk memenuhi kewajiban saya sebagai seorang ibu dan istri, diperlukan sebuahΒ dokumen Learning Guidance yang bisa menjadi acuan jika dalam keberjalanannya, saya mengalami kebingungan, kesulitan, maupun kemalasan. Namun Learning Guidance ini sifatnya tidak saklek, sehingga di kemudian hari dapat direvisi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi.

LEARNING GUIDANCE TABLE

INPUT PROSES OUTPUT
Peran :
– Individu
– Istri dan Ibu
– Pemimpin Perusahaan
– Anggota Organisasi Dakwah
Metode Belajar:
– Membaca buku
– Menghadiri seminar/kajian/ta’lim/halaqah
– Pelaksanaan/implementasi ilmu
– Membagikan ilmu/pengalaman yang diperoleh (melalui tulisan/cerita langsung)
– Mengajarkan pengetahuan yang dimilikiSarana Belajar:
– Buku
– Organisasi Dakwah
– Internet (Youtube/Blog/Podcast/Online Class/dll)
– Universitas
– Individu dengan aqidah yang bersih, ibadah yang benar, akhlak yang kokoh, fisik yang kuat, intelek dalam berpikir, berjuang melawan hawa nafsu, pandai menjaga waktu, teratur dalam urusannya, mandiri finansial, dan bermanfaat baru orang lain
– Happy Me & Happy Family
– Peningkatan dalam Prestasi di Ranah Publik

Topik yang Akan Dipelajari

Topik
Alokasi Waktu
Sarana/Metode dan Tahapan Pembelajaran
Belajar Implementasi
Agama
Membaca dan Menghafalkan Al-Qur’an Seumur Hidup Membiasakan diri membaca dan menghafal Al Qur’an setiap hari, halaqah rutin, ta’lim
Sejarah Islam Seumur Hidup Membaca buku, halaqah rutin, ta’lim
Keluarga
Fitrah Based Education 2 tahun Seumur Hidup Membaca buku, menghadiri kajian, mengikuti online class, melakukan perencanaan kurikulum pendidikan anak, implementasi kurikulum, dan evaluasi
Gizi dan Nutrisi dalam Masakan 2 tahun Seumur Hidup Membaca buku, praktik memasak di rumah, evaluasi
Manajemen Keuangan Keluarga 1 tahun Seumur Hidup Membaca buku, praktik pengelolaan keuangan keluarga, evaluasi bulanan dan tahunan
Umum
Coding 5 tahun Usia Produktif Codepolitan, belajar dengan Suami, implementasi melalui proyek
All about Start-Up Business 2 tahun Usia Produktif Membaca buku, implementasi dalam pengambilan keputusan Cityplan
Urban Policy and Planning 2 tahun Usia Produktif Kuliah Master (S2 Public Policy)
Budgeting 2 tahun Usia Produktif Membaca buku, implementasi dalam menjalankan bisnis Cityplan
Sosial Public Speaking 5 tahun Seumur Hidup Mengisi halaqah, presentasi proyek

#NHW5LearningHowToLearn

#MatrikulasIIPBatch6

#InstitutIbuProfesional

All Time Favorite People: The Girls

Left to right: Atika Almira, Me, Fathina Izmi Nugrahanti, and Ega Zulfa Rahcita

Last night we have had breakfasting together at my place. It was nice to gather with them again after a long time. Tika now is working at PT. BIJB, and soon she’ll fly to Netherlands to pursue higher education at IHS, focusing on housing. Iin now is working at Dept of Architecture ITB as an academic assistant. And Ega, she’s now working freelance for several projects. She’s planning to continue master study at ITB this year (or probably next year).

We talked about a whole lot of things laat night; campus, marriage, our friends, and jokes. Lots and lots of jokes.

I told them the story of Tika searching for “Tutorial Sarung Ninja” in YouTube couple of weeks before. That one was silly and hilarious and we couldn’t help laughing about that. Then, Iin told us about her mother asked a lecturer at FPIK IPB regarding “Ikan di dalam Cumi”. That one was hilarious too.

Well then.

It was good meeting them, really.

May Allah protect you all always, and gather us again in Jannah.

Aamiin